jump to navigation

Modus Komplotan Perampas Motor Agustus 27, 2014

Posted by The Green Blog in Motorcycle.
Tags: ,
trackback

29523_620

Modus perampas motor yang menuding korban sebagai pelaku pengeroyokan atau tabrak lari kembali marak di Jakarta. Para pelaku tak segan melukai korbannya. Para pemotor mesti hati-hati. Pastinya kalau ada yang memepet motor Mas bro kemudian menuding yang tidak-tidak, langsung tancap gas saja. Atau segera ke kantor polisi terdekat.

Aneka rupa modus kejahatan perampasan motor dilakukan. Berikut salah satu kisah yang dialami Toni, beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta Timur. Toni menyampaikan, motornya pernah dirampas dengan modus sama yang kini marak. Yaitu, pelaku menuding korban sebagai pelaku tabrak lari.

“Saya baca berita katanya modus ini marak lagi. Makanya saya mau berbagi cerita biar masyarakat waspada,” kata Toni saat dihubungi awak media via telepon, Senin (25/8/2014) malam.

Dikisahkan Toni, ketika itu dirinya baru saja pulang sekolah dari sebuah SMA negeri di daerah Kalisari, Jakarta Timur. Saat nongkrong di sebuah warung sendirian, ia dihampiri seorang pria yang mengaku tengah mencari anak SMA yang menabrak seorang keponakan perempuannya hingga luka-luka.

“Katanya, saya dan ciri-ciri motor saya mirip sama pelaku yang nabrak adiknya. Saya ngotot bantah. Dia bilang, ‘Lo yang nabrak? Kalau memang bukan lo, ayo ketemu adik gue’. Waktu itu karena saya nggak ngerasa salah, ya saya berani ikutin maunya dia,” ucap Toni.

Toni akhirnya mengikuti pelaku yang memakai motor bebek ke rumah keponakannya yang dimaksud.

“Saya ikutin dia pakai motor bebek saya. Bodohnya, karena saya nggak ngerasa salah, saya mau aja. Dia juga bawa motor jadi saya nggak curiga, dan badannya kecil jadi saya nggak takut. Katanya rumah keponakannya nggak jauh,” tukas Toni.

Belum lama keduanya berkendara, di tengah perjalanan pelaku memanggil seorang pria. Kata pelaku kepada Toni, pria itu merupakan rekannya yang juga tengah mencari sang penabrak keponakannya.

“Katanya dia, itu temannya yang lagi nyari-nyari penabrak keponakannya. Nah temannya pelaku ini naiknya di motor saya. Perasaan saya sudah mulai nggak tenang pada saat itu,” jelas Toni.

Mereka bertiga pun kemudian melaju kembali dengan motor dan tak lama berhenti di sebuah pos ronda di daerah Kalisari.

Di situ, si pelaku dan rekannya turun dari motor. Mereka kemudian meminta motor Heri untuk dibawa sebentar. Dengan alasan, akan diperlihatkan kepada keponakannya apakah benar itu motor yang menabraknya atau bukan.

Kata Toni, dirinya ketika itu langsung menolak permintaan pelaku.

“Alasan mereka saya nggak boleh ke rumah keponakannya. Abang keponakannya itu lagi emosi. Takut saya diapa-apain. Dibacok atau apa. Jadi katanya biar temannya dia itu yang bawa motor saya, habis itu mereka balik lagi,” ucap Toni.

“Ya waktu itu saya berontak nggak mau. Saya bilang, sini kunci motor lu gue pegang. Lu berdua pake motor gue sana. Mereka setuju, motor saya lalu dibawa. Saya nunggu di pos satpam itu sama motor mereka. Bodohnya saya waktu itu nggak minta tolong orang atau nelepon keluarga. Padahal ada kesempatan,” sambung Toni.

Selang 10 menit, para pelaku ini kembali ke tempat Heri menunggu. Mereka kemudian meminta agar Heri ikut ke rumah keponakannya.

“Katanya, abang keponakannya yang emosian itu tidak ada. Jadi saya di suruh kesana. Si pelaku pakai motornya, dan saya naik motor saya membonceng rekannya,” ungkap Toni.

Tiba di sebuah jalan sepi, Toni diminta turun dari motornya oleh para pelaku. Kali ini dengan ancaman sebuah pisau. Toni yang ketakutan pun akhirnya pasrah dan menyerahkan motornya dibawa rekan pelaku.

“Kayaknya waktu itu mereka udah kehilangan akal buat nakutin saya, bodoh-bodohin saya. Makanya akhirnya ngancam pakai pisau” ucap Toni.

Pelakunya bilang,

“Elo nggak usah banyak tingkah deh. Gue lagi emosi. Gue cuma bawa motor lu sebentar buat ditunjukin ke keponakan gue. 10 menit gue balik’. Mereka juga kasih saya alamat. Katanya, kalau 10 menit mereka nggak balik, datengin aja alamat itu. Saya tahu alamat yang dimaksud, itu nggak jauh memang. Karena diancam pisau, ya saya pasrah saja. Daripada ditusuk,” kisah Toni.

Kata Toni, saat itu kondisi jalanan sepi tak ada orang sama sekali. Dirinya pun hanya pasrah melihat motornya dibawa para pelaku.

Setelah menunggu lebih dari 10 menit, Toni mulai lemas karena yakin motornya telah dibawa kabur. Ia kemudian coba mendatangi alamat rumah yang diberikan para pelaku. Namun ternyata alamat rumah itu palsu.

“Saya datangi rumah Pak RW-nya langsung buat nanya alamat itu jalan kaki. Dan saya cuma bisa lemas, nangis pas pak RW bilang alamat yang dimaksud itu nggak ada,” ucap Toni.

Ia pun pulang ke rumah menaiki angkot, lalu bersama orangtuanya melaporkan kejadian itu ke polisi.

Toni berpesan agar para pengendara mewaspadai modus para pelaku yang belakangan kembali marak di daerah Jakarta dan sekitarnya. Jika berhadapan dengan situasi seperti yang diceritakan, sebaiknya lari saja atau datang ke kerumunan warga atau polisi terdekat.

“Modus begini mereka ngincar anak-anak sekolah yang bawa motor, atau yang dari tampangnya bisa diintimidasi, atau yang lagi sendirian. Lari saja kalau ketemu begitu, cari warga yang ramai, minta tolong, atau cari polisi terdekat,” imbuh Toni.

Semoga bermanfaat dan kita semua terhindar dari kejahatan serupa.

Komentar»

1. peysblog - Agustus 27, 2014

Tragis banget gan… perlu waspada tuh. Maling aja pake gaya sinetron ckckck
http://peysblog.wordpress.com/2014/08/26/vario-150-terkontaminasi-desain-lampu-hiu-cbr-600-rr-render-dua-sisi/

The Green Blog - Agustus 27, 2014

Iya… kasihan bgt tuh si Toni… semoga kita semua terhindar dari kejahatan serupa…

2. chakim92 - Agustus 27, 2014
The Green Blog - Agustus 27, 2014

Iya… kita benar2 harus waspada…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: