jump to navigation

Haruskah Mobil Selalu Mengalah dengan Motor dalam Kecelakaan Lalu Lintas? Oktober 28, 2014

Posted by The Green Blog in Car, Motorcycle.
Tags: , , , , ,
trackback

Berkelahi

Selamat pagi Mas bro dan Mbak sis sekalian…

Menarik sekali berita yang di publish Detik Oto yang berjudul 5 Fakta Mengenai Kecelakaan di Jalan Raya. Terlebih lagi saat TGB membaca point no 3 dimana Pengemudi Mobil Selalu Disalahkan dalam Kecelakaan Motor dengan penjelasan sebagai berikut.

Mengemudi di jalan raya mau tak mau harus selalu berhati-hati, baik itu kita sendiri yang berhati-hati agar tidak mencelakakan orang lain maupun berhati-hati agar tidak menjadi korban dari kendaraan lain yang mengemudi serampangan.

Dalam kasus kecelakaan antara mobil dengan motor, sering sekali pengendara motor yang menyalahkan pengemudi mobil, begitu juga sebaliknya. Namun, ujung-ujungnya, bukan lagi hukum yang berlaku, melainkan norma. Pengemudi mobil mau tak mau mengganti rugi kepada pengendara motor, apalagi jika pengendara motor itu sampai luka parah.

Menurut penjelasan diatas ada kata-kata bukan lagi hukum yang berlaku. Sebenarnya hukum yang berlaku jika terjadi kecelakaan antara mobil dan motor itu seperti apa sich?

Untuk menjawab pertanyaan diatas TGB browsing di mbah Google dan menemukan sebuah tanya jawab di situs hukumonline.com yang berhubungan dengan kasus diatas.

Biar lebih jelas silakan disimak pertanyaan dibawah ini yang dijawab oleh seorang ahli hukum bernama Tri Jata Ayu Pramesti, S.H.

Pertanyaan:

Haruskah Mobil Selalu Mengalah dengan Motor dalam Laka Lantas?

Terima kasih sebelumnya. Kemarin saya disenggol pengendara motor yang ingin menyalip dari sebelah kanan sehingga spion mobil saya patah dan orang yang mengendarai motor terpental. Perlu diketahui, saya berjalan dengan kecepatan 20 km/jam dan kondisi jalan yang saya lalui sedang banyak rusak. Dari pihak pengendara motor menuntut ganti rugi kerusakan dan biaya pengobatan, sementara saya tidak mau karena saya tidak menabrak dia. Tidak ada kata sepakat akhirnya saya laporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Apakah hal-hal seperti itu layak diproses secara hukum? Adakah sanksi kurungan penjara untuk masalah ini? Apakah kami sebagai pengguna mobil harus selalu mengalah untuk menanggung biaya pengobatan dan kerusakan kendaraan, mengingat kendaraan kami pun rusak? Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:

Tri Jata Ayu Pramesti

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Dalam hal peristiwa yang Anda ceritakan tersebut mengakibatkan kerusakan kendaraan maupun korban manusia, maka peristiwa tersebut dikatakan sebagai suatu kecelakaan lalu lintas sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1 angka 24 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”) yang berbunyi:

“Kecelakaan Lalu Lintas adalah suatu peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan Kendaraan dengan atau tanpa Pengguna Jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.”

Dari definisi kecelakaan lalu lintas di atas dapat diketahui bahwa kecelakaan lalu lintas itu dapat saja terjadi secara tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan atau pengguna jalan lain. Dengan demikian, Anda dapat saja diduga terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan pengendara motor lain terpental dan terluka karena bagaimanapun juga luka yang dialami pengendara motor tersebut adalah akibat dari menabrak mobil Anda. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan Anda apakah hal seperti itu layak diproses secara hukum, maka kami berpendapat bahwa hal tersebut dapat saja diproses secara hukum oleh pihak yang merasa dirugikan akibat kecelakaan ini. Jika memungkinkan, sebaiknya masalah tersebut diselesaikan secara kekeluargaan antara Anda dengan pengendara motor.

Pada sisi lain, jika ditinjau dari hukum pidana, kelalaian yang berakibat orang lain mengalami luka diatur dalam Pasal 360 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), yang menyatakan:

”Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda setinggi-tingginya Rp4.500.”

Menurut R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal 248-249), maksud dari pasal ini adalah seseorang karena kesalahannya yang menyebabkan orang lain mengalami luka berat atau luka yang menyebabkan jatuh sakit atau terhalang pekerjaan sehari-hari. Mengenai penggolongan luka berat dan luka ringan dalam kecelakaan lalu lintas, sebagai informasi Anda dapat membaca Batasan Luka Berat dan Luka Ringan dalam Kecelakaan Lalu Lintas.

Berdasarkan cerita Anda, pengendara motor tersebut menuntut ganti rugi kerusakan dan biaya pengobatan. Jika pengendara motor tersebut terpental dan berakibat ia menderita sakit yang tidak memerlukan perawatan inap di rumah sakit atau selain yang diklasifikasikan dalam luka berat, maka luka tersebut tergolong sebagai luka ringan (Penjelasan Pasal 229 ayat [3] UU LLAJ).

Untuk itu kami berasumsi bahwa terpentalnya pengendara motor tersebut tidak mengakibatkan luka yang berat bagi dirinya, melainkan hanya mengalami luka ringan sehingga ancaman pidana bagi Anda yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka ringan dapat dilihat pada ketentuan dalam Pasal 310 ayat (3) UU LLAJ, yang menyatakan:

“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah).”

Namun, sangat tidak adil apabila semua kesalahan atas kecelakaan lalu lintas tersebut harus ditimpakan seluruhnya kepada Anda. Jika dilihat dari sisi Anda, Andapun sebenarnya dapat menuntut pengendara motor karena mobil Anda turut mengalami kerusakan di bagian spion. Pasal 229 ayat (1) UU LLAJ berbunyi:

“Kecelakaan Lalu Lintas digolongkan atas:

  1. Kecelakaan Lalu Lintas ringan

  2. Kecelakaan Lalu Lintas sedang atau

  3. Kecelakaan Lalu Lintas berat.”

Kemudian Pasal 229 ayat (2) UU LLAJ berbunyi:

“Kecelakaan Lalu Lintas ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.”

Lebih lanjut, Pasal 229 ayat (5) UU LLAJ berbunyi:

“Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disebabkan oleh kelalaian Pengguna Jalan, ketidaklaikan Kendaraan, serta ketidaklaikan Jalan dan/atau lingkungan.”

Kerusakan spion yang dialami mobil Anda jika mengacu pada pasal-pasal di atas tergolong kecelakaan lalu lintas ringan yang disebabkan oleh pengendara motor yang melaju dalam keadaan jalanan rusak (tidak layak).

Perihal pertanggungjawaban terhadap kecelakaan lalu lintas ini diatur dalam Pasal 234 ayat (1) UU LLAJ yang berbunyi:

“Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/ atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh Penumpang dan/ atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian Pengemudi.”

Dengan demikian, pengendara motor yang merusak bagian spion mobil Anda juga dapat dimintakan pertanggungjawaban atas kerugian kerusakan yang Anda derita.

Mengenai pertanyaan Anda apakah pengguna mobil harus selalu mengalah untuk menanggung biaya pengobatan dan kerugian kerusakan kendaraan, hal tersebut tidaklah benar. UU LLAJ menindak siapapun pengguna jalan yang terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan luka pada seseorang dengan tidak memandang apakah pelakunya adalah pengendara motor maupun pengendara mobil. Namun, untuk menentukan kemudian apakah Anda bersalah atau tidak, hal itu harus dibuktikan di persidangan. Hakim pula lah yang memutus berapa besarnya ganti rugi yang wajib dibayar oleh pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas (Pasal 229 UU LLAJ). Selain melalui putusan pengadilan, penyelesaian ganti kerugian juga dapat dilakukan di luar pengadilan jika terjadi kesepakatan damai di antara pihak yang terlibat (lihat Pasal 236 ayat [2] UU LLAJ). Jadi, selain melalui proses hukum di pengadilan, penyelesaian ganti kerugian dapat diperoleh melalui cara negosiasi di antara para pihak yang terlibat.

Sekedar informasi, UU LLAJ telah mengatur siapa pengguna jalan yang wajib diprioritaskan keselamatannya. Dalam UU LLAJ, ada ketentuan yang mewajibkan setiap pengguna kendaraan bermotor untuk memprioritaskan (mengutamakan keselamatan) pengguna jalan lain, yakni pejalan kaki dan pesepeda sebagaimana diatur dalam Pasal 106 ayat (2) UU LLAJ.

Kewajiban bagi pengguna kendaraan bermotor untuk memprioritaskan keselamatan pejalan kaki terdapat dalam 116 ayat (2) huruf f UU LLAJ, yang mengatakan bahwa pengemudi harus memperlambat kendaraannya jika melihat dan mengetahui ada pejalan kaki yang akan menyeberang. Hak-hak pejalan kaki juga telah diatur dalam Pasal 131 UU LLAJ yang berbunyi:

  1. Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.

  2. Pejalan Kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang Jalan di tempat penyeberangan.

  3. Dalam hal belum tersedia fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejalan Kaki berhak menyeberang di tempat yang dipilih dengan memperhatikan keselamatan dirinya.

Diprioritaskan keselamatan pesepeda juga merupakan kewajiban pemerintah untuk memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda (Pasal 62 ayat [1] UU LLAJ) dan pesepeda juga berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas (Pasal 62 ayat [2] UULLAJ). Menurut penjelasan Pasal 62 ayat (2) UU LLAJ,Yang dimaksud dengan “fasilitas pendukung” antara lain berupa lajur khusus sepeda, fasilitas menyeberang khusus dan/ atau bersamaan dengan Pejalan Kaki.

Sanksi bagi mereka yang tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda terdapat dalam Pasal 284 UU LLAJ, yakni dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:

  1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) Staatsblad Nomor 732 Tahun 1915
  2. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Referensi:

R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.

Kesimpulan:

Anggapan pengguna mobil harus selalu mengalah untuk menanggung biaya pengobatan dan kerugian kerusakan kendaraan, hal tersebut tidaklah benar. UU LLAJ menindak siapapun pengguna jalan yang terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan luka pada seseorang dengan tidak memandang apakah pelakunya adalah pengendara motor maupun pengendara mobil. Namun, untuk menentukan kemudian apakah Anda bersalah atau tidak, hal itu harus dibuktikan di persidangan. Hakim pula lah yang memutus berapa besarnya ganti rugi yang wajib dibayar oleh pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Semoga bermanfaat.

Top Posts:

Komentar»

1. Ferboes.com - Oktober 28, 2014
The Green Blog - Oktober 28, 2014

saya baru tau… tadinya saya pikir mobil selalu kalah…

2. st3v4nt - Oktober 28, 2014

Memang tidak harus selalu ngalah tapi juga di ingat dalam UU Lalu Lintas yang sama berlaku prinsip kehati-hatian dalam hal ini pengendara kendaraan yang lebih besar dan cepat (mobil) harus memastikan keadaan sekitarnya aman selama berkendara karena ada yg lebih kecil dan lambat (pemotor dan pejalan kaki) itu sebabnya di jalan sebaiknya mobil lebih hati-hati…kecuali kalo nyerempet motor di jalan tol atau layang non tol yg melarang motor lewat….

The Green Blog - Oktober 28, 2014

Mantap tambahan informasinya om Stevant…

3. gandaaaaaaaa - Oktober 28, 2014

kecelakaan kecil – ya masih waras..
kecelakaan sedang – mulai lapar
kecelakaan besar – disini yang repot, apalagi sampai ada nyawa melayang..

pokoknya keep safety.. kadang safety aja masih di tubruk *eh

The Green Blog - Oktober 28, 2014

utamakan selamat ya om… joss…

gandaaaaaaaa - Oktober 28, 2014

yoi pak😀

4. orong-orong - Oktober 28, 2014

bila anda di posisi yang benar lawan, kalau di posisi yang salah ya seharusnya mengalah
http://orongorong.com/2014/10/27/honda-cbr150r-vs-yamaha-fazer-v2-0-fi/

The Green Blog - Oktober 28, 2014

setuju mas…

5. ndesoedisi - Oktober 28, 2014

kenapa mobil selalu dijadikan sasaran itu awalnya dari kesenjangan sosial, pengendara motor merasa bahwa pemilik mobil pasti lebih mampu daripada pemilik motor sehingga timbul hukum tidak tertulis dimasyarakat bahwa pemilik mobil harus selalu mengalah😦

The Green Blog - Oktober 28, 2014

sesuai artikel diatas… jadi norma yang berlaku…

ndesoedisi - Oktober 28, 2014

tapi hal seperti ini harus dihentikan, karena akan merugikan pemilik mobil, apakah para pemilik motor tidak berpikir suatu saat bakal punya mobil ?

The Green Blog - Oktober 28, 2014

Intinya seperti yang sering kita bahas masalah safety riding… semua saling menghormati dan semua akan baik2 saja…. joss…

ndesoedisi - Oktober 28, 2014

iya Om🙂

6. macantua - Oktober 28, 2014

kalau salah ya tetep salah, ane sih klo bener, mau si yg naek motornya membela diri sampe jumpalitan juga bodo amat,
http://macantua.com/2014/10/28/jok-apa-papan-penggilesan/

The Green Blog - Oktober 28, 2014

Siap om… mirip pendapat kang orong-orong…. berani karena benar takut karena salah… joss…

7. sijidewe - Oktober 28, 2014
The Green Blog - Oktober 28, 2014

betul mas… keep safety riding…

8. Hermawan - MivecBlog.com - Oktober 28, 2014

Memang lebih bagus pasang camera di dashboard ya mas…
Ada bukti jika ada hal-hal yang tidak diinginkan dari arah depan…

http://mivecblog.com/2014/10/28/datsun-go-berkarat-di-bagian-kaki-kaki-bagaimana-tanggapan-datsun/

The Green Blog - Oktober 28, 2014

iya setidaknya ada bukti kalau dipengadilan…

9. Zein Dakar - Oktober 28, 2014

nah klo motor ma mobil tabrakan pasti yg terluka tuh pasti dari pengendara motor, trus ada UU untuk itu, klo ngelihat UU di atas sama aja pasti yang pake mobil akan selalu kalah donk

Pada sisi lain, jika ditinjau dari hukum pidana, kelalaian yang berakibat orang lain mengalami luka diatur dalam Pasal 360 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), yang menyatakan:

”Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda setinggi-tingginya Rp4.500.”

The Green Blog - Oktober 28, 2014

menang atau kalah menurut pendapat saya pengadilan yang menentukan… karena kasus per kasus pasti akan beda sudut pandangnya dalam hukum…

10. kodokijo - Oktober 28, 2014

Emang bener, ini berawal dari kesenjangan sosial. Tak usah kita pura2 bego, krn emang kenyataannya pemilik motor cenderung punya perasaan ngiri terhadap pemilik mobil, dan hal ini diaplikasikan sehari2 di jalan. Contoh konkritnya adalah coba bro2 semua perhatiin deh pada saat ada mobil yg hendak mundur keluar dari posisi parkir, pasti deh sangat amat jarang banget sekali ada motor yg mau ngalah ksh itu mobil mundur dgn tenang, dan bahkan udah distop ama juru parkir pun msh aja pada nyelonong. Saya sering geleng2 kepala kalo lht pemandangan begitu. Apa sih ruginya ngalah bentar buat kendaraan lain? Contoh lain, saya pernah lihat dgn mata saya sendiri di sebuah tikungan tempat mangkalnya para ojekers, dan kita tau lah mereka itu kyk gimana sih, seenaknya aja kan? Nah… saat ada sebuah mobil hendak belok, tiba2 sebuah ojek puter balik arah secara dadakan, sehingga motor ojek tsb kesenggol ama tuh mobil dan jatuh. Krn si pengemudi mobil merasa dia kaga slh ya dia lanjutkan aja jalan terus, tp… langsung bbrp ojek ngejar tuh mobil dan mepetin tuh mobil terus kap mesinnya digebrak2 dgn keras. Coba pikir, dalam kasus ini siapa yg salah? Mau dirunut secara hukum? Jelas2 para ojekers itu yg paling banyak melanggar aturan hukum, krn dgn ngetem di tikungan aja udah menyalahi aturan.
Saya aja sempat geram banget dgn teman kerja saya yg msh belain motor yg terlibat kecelakaan di flyover mana tuh saya lupa, yg bonceng bininya yg lagi hamil tua terus ketabrak dan bininya mental ke bawah flyover terus meninggal di TKP. Temen saya blg harusnya tuh mobil bisa ngelihat dong atau paling gak hati2 dikit krn udah malam. WHAT??? Motor yg lawan arah-lawan arus krn hindarin razia polisi krn udah melanggar aturan lalu lintas, itu masih dibela dan nyalahin di pengemudi mobil??? Saya yakin temen saya itu ngomong begitu krn dia blm pernah jadi driver dan dia juga biasa melanggar aturan di jalan seperti lawan arah, masuk jalur busway, suka nyelonong seenaknya, pokoknya seenak dengkul dia deh. Itulah gambaran opini publik di sini.

The Green Blog - Oktober 28, 2014

walaupun sebenarnya gak semua pengendara motor seperti itu. masih banyak yang sangat mengerti safety riding hanya saya jumlahnya masih lebih banyak yang kurang mengerti. jadi bagaimana ya caranya mengedukasi mereka yang kurang paham ber tertib lalu lintas ya?

terminator - Oktober 28, 2014

Setuju bro, emang motor sekarang udah ga pakai aturan, lawan arah, menerobos lampu merah, ngebut , selip selip di antara mobil, kalau terjatuh kena mobil pura pura keskitan, minta ganti rugi pengobatan. Kalau lihat uu diatas, mobil lah yang selalu salah. Walaupun benar, akuilah hai pengendara motor, kebanyakan yah seperti itu

The Green Blog - Oktober 28, 2014

sebenernya dimata hukum kedudukan mobil dan motor adalah sama. mobil pun bisa menuntut balik kalau dirugikan…

11. yht2506 - Oktober 29, 2014

Jadi norma yang berlaku ya? norma menurut siapa?
bener sih gara2 kesenjangan sosial jadinya bgt..tapi pd kenyataannya banyak pengendara motor yg mau menang sendiri…contoh nabrak mobil malah minta ganti…eh nabrak orang malah marah2 ke yg di tabrak…2 kali kejadian yg pertama dialami adik saya sendiri yg kedua menyaksikan kejadiannya dgn mata kepala sendiri. Memang kita tidak bisa mengeneralisasikan semua pengendara…ada jg yg santun tapi sayangnya populasinya tdk sebanyak yg sembranangan…
Terima kasih ilmunya…dan ijin reblog ya..hehe

The Green Blog - Oktober 29, 2014

monggo om yht2506… senangnya berbagi…

12. yht2506 - Oktober 29, 2014

Reblogged this on yht2506 and commented:
Kebanyakan orang beranggapan bahwa kecelakaan yg walaupun disebabkan oleh motor tetap saja mobil yg salah/ngalah. Bagaimana peraturan sebenarnya?

13. vvti - Oktober 29, 2014

Klo soal motor yg lagi touring gimana ? Soalnya kmaren-kmaren pas keluar kota, ada pengendara motor yg sedang touring ngalangin jalan, disalip ogah ngalangin ia, takut knp2 jdi ane menepi isirahat sebentar.

The Green Blog - Oktober 30, 2014

Motor touring biasanya dibawah naungan club. Biasanya mereka mengerti safety riding. Tetapi yang mas bro lakukan sudah benar… mengalah dengan menepi sambil istirahat sudah solusi yang paling pas saat itu.

travelmotoblog - Oktober 30, 2014

motor2 turing ini banyak yang suka belagu.. spion mobil kakak gue sampe pecah dipukul pake pentungan.. terus main kabur aja tuh orang..

———————-
http://travelmotoblog.wordpress.com/2014/10/29/perjumpaan-pertama-dengan-zero-motorcycle/

The Green Blog - Oktober 30, 2014

Banyak yang mengeluhkan tentang itu…😦

14. Andre - Oktober 30, 2014

Lihat comment2 di bawah sangat bagus2, saya sebagai anak hukum setuju dengan UU yg berlaku, tp sisi lain saya sebagai rakyat biasa saya kurang puas dengan UU, karena UU lebih memprioritaskan kendaraan roda dua di banding roda empat, saya telah mengalami banyak kecelakaan di jalan raya, saya pengendara motor dan mobil, tetapi lebih sering menggunakan mobil, kalau menurut apa yang saya alami memang pengendara motor (terutama DKI) berlaku seenaknya di jalan raya, karena saya juga pengendara motor dan selalu berhati-hati bila di jalan, maka saat saya melihat pengendara motor yang ugal-ugalan atau mengendarai dengan tidak benar saya tidak segan-segan menegur atau kalau perlu memarahi pengendara tersebut, karena saya sebagai pengendara semua kendaraan dan sudah lama besar di jalan (Macet) maka saya tau bagaimana menggunakan kendaraan di jalan yg benar, itu pandangan menurut hati dan pikiran saya.

Kalau menurut fisik saya, saya orang yang agak susah untuk mengalah walaupun saya salah, dengan semua kejadian yang sudah saya alami maka apabila mobil saya “hampir” tertabrak oleh pengendara motor maka saya tidak segan-segan mengejar, menegur dan menasehati pengendara tersebut, tetapi apabila mobil saya tertabrak maka saya pertama menegur dan meminta tanggung jawab, apabila pengendara motor tersebut salah tetapi tidak mau mengakui maka otot saya yang berbicara (hahaha), karena menurut saya dengan cara seperti inilah yang bisa membuat para pengendara motor dapat berubah menjadi lebih hati-hati dan disiplin, apabila sudah merasakan otot pasti orang tersebut akan “kapok” atau tidak akan menggulanginya lagi (harapan semua pengendara mobil).

Demikianlah cara-cara saya untuk merubah kebiasaan buruk bangsa kita, semoga semua pengendara dapat menggunakan jalan raya bersama dengan hati-hati, disiplin aturan hukum dan saling menghormati pengendara lainnya.

Terima kasih.
Dari Saya sebagai Rakyat Biasa.

The Green Blog - Oktober 30, 2014

Super sekali om Andre….

15. Pengendara Motor Hama Jalan Raya? | Sing Indo - April 20, 2015

[…] Baca juga: Haruskah Mobil Selalu Mengalah dengan Motor dalam Kecelakaan Lalu Lintas? […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: